Monumen Kapal Selam, Bukti Maritim Indonesia Jaya

//Monumen Kapal Selam, Bukti Maritim Indonesia Jaya

Jika sudah bicara soal Kota Surabaya, apa kira-kira yang ada di benakmu? Sebagai kota yang dijuluki ‘Kota Pahlawan’, Surabaya memang menjadi tempat bersejarah dimana Arek-Arek Suroboyo dengan gagah berani memperjuangkan kemerdekaan rakyat Indonesia, dengan keringat darah mereka demi mempertahankan sejengkal tanah bumi pertiwi.

Tidak heran jika di Kota Surabaya ini dibangun berbagai macam monumen untuk mengenang dan menghormati jasa para pahlawan. Dan salah satu monumen yang sangat terkenal di Kota Surabaya dan kini menjadi bagian dari wisata maritim Indonesia adalah Monumen Kapal Selam yang diresmikan pada tanggal 20 Juni 1998.

Tentu Monumen Kapal Selam tidak berdiri begitu saja. Asal usul atau latar belakang didirikannya monumen ini pastilah ada. Dulunya, kapal selam ini merupakan kapal selam milik TNI Angkatan Laut dengan tipe Whiskey Class buatan Uni Soviet tahun 1952. Nama kapal selam ini ialah KRI Pasopati dengan nomor lambung 401.

Lihat juga Monumen Kapal Selam Surabaya

Pada tanggal 29 Januari 1962, Kapal Selam KRI Pasopati 401 memasuki pangkalan TNI Angkatan Laut. Kapal selam KRI Pasopati 401 ini juga ternyata turut berjasa karena ikut andil dalam pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda saat itu, dengan menjalankan operasi Antareja Jaya Wijaya. Kapal selam dengan panjang 76,6 meter dan lebar 6,30 meter ini, kini menghiasi Kota Surabaya dan menjadi bukti masa awal kejayaan maritim di Indonesia.

Kapal Selam KRI Pasopati 401 dilengkapi dengan gas uap torpedo yang berjumlah 12 buah. Kapal selam ini secara teoritis, ternyata mampu menyelam hingga kedalaman 300 meter. Kecepatan kapal selam ini jika dilihat dari permukaan air bisa mencapai 18,3 knot, sedangkan ketika di bawah permukaan air mencapai 13,6 knot. Jika kamu penasaran berapa berat dari KRI Pasopati 401, berat kapal selam KRI Pasopati adalah 1.300 ton, dengan baterai sebanyak 224 unit dengan bahan bakar diesel, disertai baling-baling berjumlah 6 lubang sebagai pendorong. Kapal selam ini pun mampu membawa awak kapal sebanyak 63 orang.

monumen kapal selam surabaya

Kelebihan dari KRI Pasopati 401 adalah kapal selam ini tidak dapat terdeteksi oleh sonar. Ingin tahu kenapa? Hal ini karena bahan pelat atau baja yang digunakan di badan kapal ternyata memang dirancang oleh pihak pembuat yakni Uni Soviet untuk menyulitkan sonar-sonar kapal buatan barat untuk mendeteksinya. Bisa dikatakan kalau kapal selam KRI Pasopati ini merupakan kapal siluman.

Kamu pernah berpikir bagaimana kapal selam KRI Pasopati 401 ini bisa ada di Surabaya dan menjadi monumen? Tentu saja hal ini bukanlah perkara yang mudah. Pada saat proses pemindahan, KRI Pasopati 401 harus dipotong menjadi 16 bagian dan kemudian dibawa ke area Monkasel. Setelah sampai di Monkasel, kapal selam yang terdiri dari 16 bagian tersebut pun dirakit kembali menjadi sebuah Monumen Kapal Selam yang kita kenal dan kini menjadi salah satu wisata populer di Surabaya.

Monumen Kapal Selam (Monkasel) yang berada di sisi Sungai Kalimas ini disebut-sebut menjadi Monkasel terbesar di kawasan Asia. Bahkan pengelola wisata dan pemandu dari Turis Information Centre Surabaya, Sultan, mengatakan bahwa yang memiliki museum kapal selam hanya kurang dari lima negara di dunia. Jadi, kita patut bangga memiliki museum kapal selam karena hanya beberapa negara maritim di dunia yang mempunyai museum kapal selam untuk edukasi seperti di negera kita. Museum kapal selam hanya ada dua di Inggris, dan untuk kawasan Asia hanya ada di Indonesia, tepatnya di Kota Surabaya.

Kini, kapal selam KRI Pasopati terbuka untuk umum. Saat pertama kali masuk ke dalam Monumen Kapal Selam, kamu mungkin akan terkejut dan bingung dengan kondisi di dalamnya. Meskipun terlihat besar dari luar ternyata saat kamu memasuki dalamnya kapal, kamu akan menyadari bahwa di dalam kapal selam itu sangat sempit.

Bahkan pintu yang menghubungkan antar bagian hanya cukup untuk dilalui satu orang saja, itu pun harus sambil membungkuk. Belum lagi kamu akan disuguhi pemandangan dinding kapal yang dipenuhi dengan peralatan-peralatan yang kamu pastinya tidak tahu fungsi dari peralatan itu untuk apa. Tapi tenang, ada pemandu wisata yang akan membantumu mengenal segala sesuatu yang berkaitan dengan kapal selam ini. Setelah mengetahui hal ini, kita pasti berpikir betapa luar biasanya awak kapal saat itu yang harus berperang dalam kondisi sempit dan pengap seperti ini.

Untuk kamu yang tertarik berkunjung ke Monumen Kapal Selam, harga tiket masuk yang ditawarkan relatif murah, yaitu sekitar Rp. 10.000 per orang. Sedangkan untuk memasuki kawasan kolam renang dikenakan biaya Rp. 8000,-. Nantinya, sebelum kamu masuk ke dalam kapal selam, akan ada petugas yang berpakaian layaknya awak kapal yang menyarankan para pengunjung untuk menuju ke sebuah ruangan. Nah, di ruangan ini kamu akan menyaksikan film dokumenter mengenai sejarah TNI Angkatan Laut dan awal mula kapal selam ini. Film ini berdurasi sekitar 30 menit.

Jam operasional di Monumen Kapal Selam ini dibuka dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 22.00 malam. Selain menambah wawasan seputar dunia maritim, kamu juga bisa merasakan sensasi menjadi seorang awak kapal pada masa peperangan. Kamu tidak perlu khawatir akan kepanasan saat menyusuri tempat ini, karena museum kapal selam ini juga sudah dilengkapi pendingin udara.

Sebagai gambaran, saat kamu memasuki kapal selam, akan ada beberapa ruangan yang terbagi menjadi beberapa bagian. Ruangan tersebut antara lain seperti tempat tidur awak kapal, ruang sonar, ruang mesin, ruang torpedo, ruang perwira, ruang diesel, ruang periskop, dan beberapa ruangan lainnya. Disetiap ruangan, kamu akan melihat papan kecil yang menyajikan informasi tentang ruangan tersebut serta peralatan yang ada di dalamnya.

Akses ke Monumen Kapal Selam cukup mudah. Monumen ini terletak di Jalan Pemuda Nomor 39 Embong Kaliasin, Genteng, Kota Surabaya. Monumen Kapal Selam juga bersebelahan dengan Sungai Kalimas. Tempat wisata maritim ini pun berdekatan dengan Stasiun Gubeng. Kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum untuk mencapai lokasi wisata.

Bila menggunakan kereta, kamu hanya perlu berjalan kaki sekitar 100 meter dari pintu belakang Stasiun Gubeng. Sedangkan bila memilih untuk naik bus, kamu bisa naik dari Terminal Bungurasih, lalu naik bus kota jurusan Gubeng-THR.

Lihat juga Kebun Binatang Bonbin Surabaya

Bagi kamu yang tidak memiliki kendaraan pribadi atau malas untuk menunggu antrian kereta, juga tidak mau pusing turun naik bus, kamu bisa coba alternatif lain seperti menyewa kendaraan di sewabussurabaya.com, disana kamu bisa menemukan berbagai jenis kendaraan yang akan mempermudah kamu berkunjung ke berbagai destinasi wisata yang ada di Surabaya.

Di sewabussurabaya.com juga ada berbagai jenis paket yang bisa kamu sesuaikan dengan budget liburanmu. Ya, itulah sekilas informasi mengenai Monumen Kapal Selam, wisata sejarah di Kota Surabaya, yang mungkin bisa jadi pilihan liburanmu kali ini. Semoga bermanfaat.

× 08112635845